Hari minggu hari yang menyenangkan untuk kita sejenak berpetualang. Berikut catatan petualangan 1000 Burung Kertas pada #Sundaysocial kali ini, Enjoy! Continue reading
Terima Kasih.
Siang itu tampak kerumunan warga memadati sebuah bangunan berwarna biru. Sepetak bangunan kecil yang bertetangga mesra dengan sebuah gudang tempat penyimpanan. Bukan pos satpam, atau pos ronda melainkan sebuah sanggar kecil yang didirikan hampir 4 bulan yang lalu.
Sanggar tersebut bernama Studio biru. Sebuah tempat persinggahan bagi kurang lebih 20-25 anak di daerah sengir ripungan sumberhardjo prambanan sleman Yogyakarta. Sebuah tempat kecil yang memberikan sedikit harapan untuk menggapai mimpi untuk menjadi lebih baik. Continue reading
[1000 Burung Kertas] Tamasya ke Bon Bin
“Mak, liwat endi ki mak?” (Mak lewat mana ini mak?)

ki-ka : Atin, Rizki, Edo, Ivan, Adit (dok.canting)
Suara nyaring Adit menjadi original soundtrack pada hari minggu 31 Juli 2011. Suara nyaring yang menyiratkan semangat 45 para pejuang kemerdekaan. Meski tamasya ke Bon Bin ini bukan yang pertama kali baginya, tetap saja dia asyik mengoceh menceritakan pengalamannya ke Bon Bin kepada kami. Bahkan menurut ibunya karena terlalu bersemangat, sampai-sampai semalam Adit tidur terlalu larut. Dasar, Adit
Press Release : Peresmian Studio Biru
Komunitas Canting Yogyakarta lewat kegiatan “1000 Burung Kertas” yang digalakan akan melakukan peresmian Perpustakaan dan Sanggar belajar anak “Studio Biru” pada hari sabtu, tanggal 25 juni 2011 di dusun ripungan, yogyakarta. Di Dusun Ripungan, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Acara akan dimulai pukul 14.00 sampai 17.00 secara sederhana di lokasi bangunan Studio Biru yang baru. Pada 2006 menjadi bagian wilayah terdampak gempa parah dan lokasi Studi Biru sekarang merupakan bagian tersisa dari shelter penampungan korban saat itu. Yang kemudian diperbaiki untuk mempermudah serta memberi kenyamanan dalam proses belajar mengajar.
Acara pembukaan akan di hadiri oleh beberapa teman-teman dari komunitas blogger serta komunitas-komunitas lain yang kami undang. Juga termasuk beberapa donatur buku untuk perpustakaan sederhana di sanggar Studio Biru.
Studio biru sebagai Perpustakaan dan sanggar belajar selain untuk meningkatkan kreatifitas serta kemampuan kgnitif dan afektif juga menjadi bagian dari pengembangan literasi terutama di kawasan pinggiran jogja yang jarang tersentuh oleh perhatian pemerintah.
Latar
Komunitas Canting yang awalnya dimulai dari kumpulan blogger dan aktif di dunia manya, berupaya aktif di dunia nyata dengan terjun langsung dalam pengembangan baca-tulis terutama di fokuskan untuk anak-anak yang kurang beruntung dengan pendirian perpustakaan dan sanggar belajar serta bermain, salah satunya Studio Biru. Pemilihan Studio Biru di dusun ripungan bukan tanpa alasan. Continue reading
Burung-burung Kecil di Bukit Gersang
Apakah tuan pernah mengunjungi candi Prambanan? jika iya, maka dapat dipastikan ekspresi tuan adalah berdecak kagum, memuji keindahan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara itu. Keindahan arsitektur yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Trimurti. Kiranya kita bersepakat untuk hal itu. Tapi begini, tuan, sudilah ku tunjukkan keindahan lain yang letaknya tak jauh dari keagungan para Batara, Siwa, Wisnu atau Brahma.
Burung-burung kecil, begitu kami panggil mereka. Burung-burung kecil bersayap muda, namun mudah rapuh, jika angin terlalu kuat menerpa. Mereka bersarang di bukit kapur yang tandus, tak jauh dari candi Prambanan. Dimana ketela pohon hidup kurus, penuh debu. Namun kiranya, Sang empunya hidup tak akan menciptakan ketandusan tanpa meninggalkan mata air. Dan burung-burung kecil di bukit gersang itulah sesunggunya mata air.
Memang benar, bahwa setiap manusia memiliki sendiri hidupnya. Dia tak boleh diperintah agar ke kiri atau ke kanan. Namun burung-burung kecil tetaplah butuh sokongan. Tak mungkin dia dilepaskan ke rimba belantara dengan sayap yang belum kuat mengepak. Sejatinya burung-burung kecil harus tahu dulu mana gagak, atau rajawali. Barulah dia dibebaskan untuk melesat ke angkasa raya.
Tuan, ah, memang masa kecil adalah masa paling indah. Dimana mimpi-mimpi bebas berkeliaran memenuhi otak. Cita-cita yang setinggi bintang dan sebesar purnama. Persoalannya adalah tangga yang mana akan dibangun untuk memanjat bintang. Atau tali yang mana, yang paling kuat untuk menarik purnama itu. Jangan biarkan, sekali pun, membiarkan burung-burung kecil itu sesenggukan karena mimpi dan cita-cita tak dapat teraih. Apalagi karena persoalan angin yang terlalu kuat berdesir, atau badai yang mengamuk. Oh, tuan, sungguh, burung-burung kecil tak boleh mati muda. Atau jatuh tergeletak sebelum belajar terbang.
Burung-burung di bukit gersang. Sudilah tuan mampir ke sana, meski beberapa waktu saja. Tuan bagilah semampunya, apa yang tuan punyai. Memang benar, bahwa masa-masa ini, Garuda teramat letih untuk kembali terbang menerobos awan-awan, mengguncang angin. Burung-burung hantu teramat menikmati malamnya, menyambar siapa saja yang menghalanginya. Atau beberapa, mungkin juga banyak, yang berusaha menjadi Rajawali. Namun kalah dengan kegelapan malam yang teramat pekat.
Burung-burung di bukit gersang, tak berharap akan menjadi garuda-garuda yang besar. Jika tuan menanyai mereka satu persatu, mereka akan menjawab:
“Kami akan menyokong sayap-sayap Garuda, agar kembali terbang!”
Jogja, Medio Juni 2011
Agung Poku
1000 burung kertas
1000BurungKertas mengajak dan memfasilitasi siapapun yang terketuk hatinya dan peduli dengan pendidikan anak-anak di daerah terpencil untuk bergabung dengan kegiatan ini. Cara bergabung sangatlah mudah yaitu dengan mengirimkan buku, donasi, maupun membeli kaos 1000BurungKertas. Untuk tiap donasi yang terkirim akan dibuatkan 1 burung kertas yang melambangkan harapan bagi anak-anak di Rimpungan. Di tiap kepak sayap burung akan dituliskan kata-kata penyemangat bagi anak-anak. Burung kertas sendiri menjadi simbol harapan dan kebebasan. Burung mampu terbang tinggi menuju alam bebas guna melihat hal-hal baru dan dunia yang lain. Satu burung yang yang dikirimkan akan menjadi alat yang mampu mengantarkan anak-anak untuk terbang tinggi melihat dunia luas serta menggapai mimpi dan cita-cita mereka.
Bagaimana cara bergabung dan memberikan dukungan?
Anda dapat mengirimkan buku-buku cerita, buku pelajaran, dan permainan edukatif ke alamat dibawah ini:
Elisabeth Murni | Karangmalang Blok E26, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY
cp : 089671580915
Anda dapat mengirimkan donasi tanpa batasan nominal ke nomor rekening dibawah ini:
No. Rekening: 041001004882502 || AN. Tosse Wibowo || BRI Kantor Cabang Adi Sucipto, Yogyakarta
Anda dapat membeli kaos 1000 Burung Kertas dengan harga minimal Rp 50.000,00 di luar ongkos kirim.
CP Pemesanan Kaos: Yuladi Zula| 0817464801|twitter: @kouncoeng
Anda dapat menghubungi Hendra Arkan, jika ada pertanyaan-pertanyaan yang perlu anda tanyakan dan penjelasan lebih lanjut seputar kegiatan 1000 burung kertas
cp: 081931182505
Bagi siapa saja yang telah maupun akan memberikan donasi dalam bentuk apapun diharapkan menghubungi contact person dengan mencantumkan alamat emal/account fb/twitter dan no HP supaya kami dapat memberikan laporan pertanggungjawaban.
[1000 Burung Kertas]Mencoba Mengkisahkan
… sebuah cerita tentang keinginan untuk berbagi. Berbagi harapan dan mimpi untuk mereka yang kurang beruntung.
***
Kisah ini berawal kira-kira hampir setahun yang lalu. Ketika kami dipertemukan dengan seorang bernama Rendra. Pria bernama Rendra ini kemudian mengajak kami ke sebuah sanggar bernama Studio Biru. Sanggar kecil di daerah Ripungan, Prambanan, Sleman Yogyakarta. Sebuah sanggar yang merupakan bekas rumah sementara/shelter untuk para korban gempa jogja 27 Mei 2006 lalu.
Pada awalnya shelter tersebut sering digunakan untuk kegiatan pendampingan anak-anak korban bencana. Di sana anak-anak dapat bermain dan belajar untuk sekedar melupakan bencana yang mereka alami. Sampai waktu pun berlalu, dan bencana pun usai. Namun kegiatan pendampingan tetap berjalan. Meski dengan apa adanya, dan dengan segala keterbatasan.
***
Singkat cerita, dari pertemuan kami dengan Rendra, kami pun menyempatkan diri untuk berkunjung kesana. Meski hanya untuk sekedar bermain-main pada awalnya.
Untuk kali pertama, mereka menyambut dengan malu-malu kedatangan kami. Meski pada akhirnya kekakuan itu pun melebur menjadi keakraban. Mereka mulai menyambut tidak dengan diam dan malu-malu. Meski masih ada beberapa yang menjaga jarak.
Dan pada akhirnya kami pun bisa dikatakan hampir sering berkunjung kesana. Sehingga kami mulai tahu dan mengenal, tidak hanya anak-anak itu, namun juga desa tempat mereka tinggal. Terletak di bukit tepat diatas pemukiman rumah dome, yang kini menjadi daya tarik wisata tersendiri.
Kondisi desa ripungan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keadaan desa-desa lain. Hanya karena akses yang sulit terjangkau membuat pembangunan di desa ini berjalan kura-kura. Memang ada akses lain untuk menuju kesana, dengan mengambil jalan memutar yang tentunya lebih jauh dan memakan waktu lebih lama.
***
Dari adik-adik disana kami juga tahu bahwa setiap pagi dan siang mereka harus berjalan menuju sekolah yang terletak di daerah Dayakan. Memang tidak jauh. Namun jalan curam menurun dan berbatu yang harus mereka lalui merupakan tantangan tersendiri yang lebih terasa ketika mereka pulang di siang hari yang terik.
“Capek ndak dik?” , “Yo ora mas, wong wis biasa.” Itulah jawaban mereka ketika ditanya tentang perjalanan yang harus ditempuh untuk pergi sekolah.
Sekolah, hanya berarti kegiatan belajar membaca dan menulis. Karena pada akhirnya nanti, tergantung pada kekuatan orang tua mereka. Sampai sejauh mana biaya untuk sekolah dapat terkucur demi menggapai mimpi-mimpi mereka. SD, SMP, atau SMK? Untuk kemudian tamat dan menjadi buruh pabrik atau bekerja di toko, pekerjaan paling beruntung yang mereka dapatkan nantinya.
Disinilah pada akhirnya sisi kemanusiaan kami tergelitik. Keinginan untuk beraksi tidak hanya pada dunia maya. Tidak hanya sekedar membagi kisah mereka atau kesulitan mereka pada khalayak umum. Namun bertindak!
***
Melalui proses yang tidak singkat, kami pun membentuk gerakan sosial 1000 burung kertas. Beserta tagline for Hope and Happiness. Dengan tujuan, berbagi.
Dan langkah pertama kami adalah merombak kondisi sanggar yang ada agar menjadi lebih layak untuk berkegiatan. Beberapa hal kami lakukan dari menjual kaos sampai meminta dukungan dan bantuan dari kanan-kiri. Baik berupa buku-buku, sarana belajar atau dana.
Sampai, akhirnya kami bukan hanya bisa merombak sanggar, melainkan membangun sanggar baru diatas tanah pinjaman. Dengan harapan, sanggar yang baru tersebut tidak hanya digunakan untuk kegiatan anak-anak belajar dan bermain, melainkan juga berguna bagi warga desa. Agar nantinya dapat sedikit merubah kehidupan warga disana menjadi lebih baik. Muluk-muluk memang, tapi bukan tidak mungkin.
***
Setiap manusia bebas bermimpi. Hidup enak, pekerjaan layak, istri yang cantik, dan kehidupan yang mapan. Tidak salah memang. Karena itu hak mereka sebagai mahluk individu. Namun bagaimana jika mimpi itu berhadapan dengan realitas/kenyataan yang bertolak belakang? Bisakah kita bebas bermimpi?
1000 burung kertas for hope and happiness
*) untuk info lebih lanjut kunjungi web kami : 1000 burung kertas atau FB 1000 burung kertas
*) berikut kegiatan yang telah dilakukan bekerja sama dengan beberapa pihak,

Belajar Bahasa Inggris bersama IKMM (Dok.Hendra)

Belajar Bahasa Inggris bersama IKMM (Dok.Hendra)

Belajar Jarimatika
(Dok.Bayu)

Belajar Jarimatika
(Dok.Bayu)

Bermain Badminton
(Dok.Bayu)

Studio Biru yang baru
(Dok.Bayu)
video kegiatan

for hope and happiness
Mimpi yang Perlahan Mulai Terwujud
“Aku mung duwe rong lencer ki kang” (Aku hanya punya dua batangan besi mas).
“Yowis rapopo, iso nggo tambah-tambah. Geneo iki malah luwih gede timbang liyane, luwih kukuh iki” (Tidak masalah, bisa buat tambah-tambah. Ini malah lebih besar dibanding yang lain, ini lebih kuat).
“Iyo to? Ra ngerti aku malah” (Apa benar? Saya malah tidak tahu).
“Yowis gek ndang gowo mrene. Ayo sopo sek nduwe liyane ndang diklumpukke kene” (Yasudah, segera dibawa ke sini. Ayo siapa lagi yang punya material lain segera dikumpulkan).
Sepenggal percakapan yang terjadi antara dua orang penduduk Sengir langsung membakar semangat kami. Ya, jika mereka saja begitu bersemangat untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit material yang mereka punya demi membangun sebuah sanggar belajar untuk anak-anak mengapa kami harus merasa letih dan hilang semangat?
Mungkin beberapa orang sudah mulai bertanya-tanya tentang keberlanjutan Sanggar Studio Biru yang kami wacanakan sejak pertengahan tahun lalu. Bagaimana dengan perkembangannya, bagaimana dengan aliran dana yang sudah mereka kirimkan, bagaimana dengan burung-burung kertas yang mereka buat dengan sepenuh hati, mengapa hingga kini tidak ada perkembangannya? Apakah jalan ditempat? Atau malah berhenti di tengah jalan?
Jujur bulan-bulan lalu semangat kami sempat meredup. Setelah hampir satu tahun dan belum ada perkembangan yang berarti, setelah sahabat kami satu persatu menghilang dengan kesibukannya masing-masing, setelah terlenakan dengan ini itu, proyek Studio Biru sedikit ternafikan. Namun ternyata ada banyak orang yang mensupport kami dan terus mendukung keberlanjutan program ini. Lewat twitter, fb, dan jejaring sosial lainnya mereka mengingatkan akan pentingnya meneruskan Studio Biru bagi pendidikan anak-anak di Sengir. Perbincangan dengan banyak orang membuka juga mata kami sekaligus mencerahkan bahwa Studio Biru harus terus digarap.
Dengan sedikit sisa semangat yang masih menyala kami pun mulai lagi untuk menyusun langkah. Menghubungi satu persatu kawan-kawan yang masih berkomitmen dan mencoba untuk berfikir serius (setelah sekian lama hanya haha hihi saja). Meskipun awalnya sempat ada kerikil kecil yang menghambat perjalanan kami, semangat dari beberapa kawan yang dengan gigih terus bolak-balik mengadakan pertemuan dengan warga rupanya membuahkan hasil yang memuaskan. Kawan lain yang tidak turut serta berembuk dengan warga melakukan tugas yang lain, baik menghimpun dana, memperluas jaringan, mendata buku yang sudah masuk, atau sekadar bersorak memberi dukungan.
Rupanya apa yang kami lakukan tidaklah sia-sia, perlahan mulai terlihat hasilnya. Minggu, 1 Mei 2011, akhirnya Studio Biru mulai dibangun. Pembangunan ini tidak melulu menggunakan dana yang terkumpul, warga pun turut kami libatkan. Dengan semangat mereka membawa barang-barang yang mereka miliki dan dapat digunakan sebagai material seperti batangan besi maupun bambu. Mereka juga menyediakan konsumsi untuk mereka masing-masing serta tenaga yang tidak dibayar. Kami tau dana yang kami miliki untuk membangun Studio Biru dan menjadikannya sebagai pusat belajar dan bermain anak-anak Sengir sangatlah terbatas. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah kami untuk mewujudkan mimpi kami dan mimpi anak-anak Sengir.
Kini, sedikit dari mimpi itu mulai terwujud. Kami mulai melihat gambaran masa depan anak-anak Sengir. Mungkin terdengar berlebihan, namun ini yang kami rasakan. Di tiap adukan semen, di tiap butiran pasir, di tiap tumpukan batu-bata ada ada tawa anak-anak di sana, ada harapan, dan ada masa depan. Kami percaya keberadaan Studio Biru ini nantinya akan mampu mengubah kehidupan anak-anak disini. Dan kami berharap tidak hanya kehidupan anak-anak, namun juga berimbas kepada seluruh warga Sengir yang masih jauh tertinggal dengan kehidupan di pedukuhan lain. Ya, semoga!
Medio Mei 2011
Elisabeth Murni
Malaikat Kecil Merajut Mimpi Di Atas Bukit
Mentari menyapa, aku mulai memeriksa tas butut yang selalu menemani aktivitasku di luar rumah. Kulirik Suamiku yang sedang menyeruput kopi, dia tampak tenang dan sabar menungguku berkemas. Ku periksa kembali isi tas untuk memastikan semua yang aku butuhkan sudah siap di dalamnya. Sepertinya aku dan suamiku siap untuk melakukan petualangan luar biasa hari ini. Dengan semangat besar aku dan suamiku berangkat mengendarai motor kami. Aku sudah memiliki janji dengan seorang teman yang ku kenal dari sebuah komunitas di Jogja.
Mendung mengiringi putaran roda kami, sepertinya jalanan sedang dipadati kendaraan bermotor. Kalender menunjukkan tanggal merah, tepat lahirnya Rasulullah SAW, pantas saja lalu lintas lebih padat, ini hari libur. Setelah 20 menit berlalu, akhirnya kami sampai di sebuah jalan berliku yang menanjak. Aku terperangah sejenak melihat jalanan yang tak sempurna beraspal itu. Temanku memacu motornya terlebih dahulu di depan kami, berikutnya suamiku mulai menarik gas lebih kencang. Dengan sangat hati-hati akhirnya jalan licin menanjak dan lumayan curam itu bisa kami lalui. Sampailah kami di sebuah rumah, bukan ini bukan rumah dan tak layak untuk disebut rumah, sebuah saung, bukan ini tak tampak terlihat seperti saung, mereka menyebutnya “Sanggar Studio Biru”. Sebuah bangunan kecil dengan dindingnya yang terbuat dari bambu, pilar kayu, beralaskan tanah dan tertempel sebuah tulisan “Buatlah 1000 Burung Kertas”. Kami disambut oleh seorang lelaki muda dengan senyum lebar yang ramah, dan wajah riang yang dari para malaikat kecil di sana. Dengan hati berdebar aku melangkahkan kaki menuju sanggar, tampak tiga orang teman sudah menunggu kedatangan kami.
Di dalam sanggar mungil ini dadaku mulai sesak, namun aku tetap menunjukkan wajah ceria dan senyum tulus dari lubuk hatiku. “Tuhan, inikah sanggar belajar dan bermain itu ? Di sinikah 1000 burung kertas itu sedang dirangkai ?” bisikku dalam hati. Para malaikat kecil itu mulai mengelilingi kami, aku menghampiri mereka dan malu-malu mereka mengulurkan tangannya padaku. Ku jamah jemari-jemari kecil di depanku, genggaman hangat dari malaikat kecil yang tampak bersinar di mataku. Sembari tersenyum mereka memperkenalkan namanya satu-persatu. Duduk di atas tikar yang tak menutupi seluruh ruangan, sebagian dari mereka bermain di luar sanggar, sebagian duduk bersama kami. Pandanganku teralih dari mereka, aku menatap lekat-lekat sosok lelaki muda yang ku dengar dari temanku bahwa dialah sang pahlawan. Sebut saja mas Rendra, dengan penuh semangat dan optimis yang tinggi dia mulai menceritakan niat dan impian luar biasanya tentang “Sanggar Studio Biru”. Betapa kagum, salut, dan bangga padanya, dengan niat tulus dia membangun tawa canda para malaikat kecil itu di sini dan tanpa berharap imbalan sepeser pun. Lagi-lagi aku mendesah, “Aku malu padaMu Tuhan, karena aku belum bisa melakukan hal luar biasa seperti yang beliau lakukan”, benakku.
Setelah berbincang-bincang ringan dengan mas Rendra, aku kembali mengalihkan perhatianku pada para malaikat kecil di ruangan ini. Aku teringat dengan bingkisan kecil yang kurangkai sendiri untuk mereka, kulihat wajah berbinar ketika mereka menerima bingkisan yang tak seberapa nilainya, namun berisikan niat tulus dan ikhlas di dalamnya. Walau sedikit berdebar, aku beranikan diri untuk berbaur dengan mereka. Aku ikut bermain lompat tali dengan mereka dan menunjukkan kelihaian tarian kakiku, jadi teringat masa kecil dulu. Sepuas bermain lompat tali aku ajak mereka memasuki ruang sanggar, aku mengambil beberapa buku anak yang sengaja ku beli kemarin di sebuah toko buku. Suamiku tersenyum padaku, aku tahu dia selalu memberiku semangat atas semua hal positif yang aku lakukan. Aku menyodorkan buku-buku itu, tangan kecil mereka meraihnya dengan rasa keingintahuan yang tak terbendung.
Ku ambil satu buku dongeng yang kubawa, dan menyuruh mereka untuk membaca buku itu secara bergiliran. Terbesit ide di benakku, setelah buku itu selesai mereka baca, aku mengambilnya dan berdiri di hadapan mereka semua. Mungkin agak kikuk dan kaku, belum pernah kulakukan hal seperti ini, berdiri sembari memegang buku dongeng bergambar layaknya pendongeng senior “Pak Raden”. Awalnya aku bingung bagaimana memulainya, namun tatapan mata malaikat kecil di depanku membuat mulutku tergerak untuk berceloteh dongeng “Segentong Emas”. Sambil bercerita sesekali aku melihat wajah mereka, suaraku yang agak sedikit gemetar mulai melunak. Tamat membacakan satu buku, kulontarkan pertanyaan untuk mereka agar bisa menyerap nasihat yang tersirat dari isi dongeng tersebut. Dengan antusias beberapa dari mereka menjawab semua pertanyaanku, dan mereka mulai banyak bertanya padaku juga. Sebagian dari mereka juga bertanya tentang diriku, makanan yang ku suka dan hobi. Ketika menjawab hobiku adalah bernyanyi, mereka memintaku bernyanyi, sejujurnya aku agak malu bernyanyi di hadapan para malaikat kecil. Dan meluncurlah sebuah lagu “Andaikan aku punya sayap” dan “Cinta untuk mama” dari mulutku. Sudah terlewat siang hari, mungkin sudah saatnya malaikat kecil kembali ke singgasananya.
Namun, sebelum kami berpisah mereka menyanyikan beberapa lagu juga untuk kami. “Tuhan, inilah seruan mereka”, bisikku. Sedikit berat meninggalkan tempat ini, tapi begitulah nyatanya langkah kami tetap menyeret keluar dari sanggar mungil ini. Datang disambut dengan senyum dan pulang pun diantar dengan senyum. Aku berharap malaikat kecil yang sedang merajut mimpi di atas bukit ini bisa menggapai mimpinya yang tergantung di kolong langit.
Sepesial terima kasih untuk Tuhan, Suamiku tercinta (Muchtar Kusuma A) yang selalu mendukung aku, mas Gugun yang mengenalkan aku pada Studio Biru, Aziz Ngashim, mas Sigit, mas Aziz & mbak Umi yang telah meluangkan waktu untuk mengantar kami ke sanggar. Mari kita jemput mimpi kita bersama untuk merajutnya menjadi nyata.
*Tulisan ini dari Dewi Lestariny (@delescuex) setelah mengunjungi sanggar Studio Biru. Terimakasih buat Dewi dan suaminya yang telah menyempatkan untuk bermain di Sanggar Studio Biru.












